Setiap helai kain tenun NTT menyimpan kisah budaya, ketekunan, dan doa para perempuan penenun di tanah Timur. Tenun ini bukan sekadar kain, tetapi karya tangan yang lahir dari proses panjang dan makna mendalam. Tak heran, banyak wanita muda profesional kini menjadikan tenun NTT sebagai bagian dari gaya hidup mereka—baik untuk bekerja, menghadiri acara formal, maupun tampil santai dengan sentuhan budaya. Namun, keindahan kain tenun tradisional ini tidak akan bertahan lama tanpa cara perawatan yang tepat.
Berbeda dengan kain pabrikan, cara mencuci kain tenun NTT perlu kehati-hatian dan kelembutan. Kain ini umumnya terbuat dari serat alami seperti kapas atau sutra, dengan pewarna alami dari tumbuhan dan akar-akaran, sehingga rentan luntur jika dicuci sembarangan. Merawatnya dengan benar berarti menjaga nilai warisan budaya yang melekat pada setiap motifnya. Ketika Anda mencuci tenun dengan penuh perhatian, Anda tidak hanya membersihkan kain, tetapi juga menghargai kerja keras para penenun dan menjaga cerita yang ditenun di dalamnya.
Mengapa Kain Tenun NTT Membutuhkan Perawatan Khusus?
Kain tenun NTT memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari kain biasa. Setiap helai benangnya dibuat secara manual dengan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun. Karena itulah, cara merawat dan mencucinya tidak bisa asal.
Apa yang Membuat Serat Tenun NTT Berbeda?
-
Serat alami dari kapas dan sutra.
Kain tenun NTT biasanya terbuat dari bahan alami yang lembut, bernapas, dan ramah lingkungan. Namun, bahan-bahan ini juga lebih sensitif terhadap suhu tinggi dan bahan kimia keras. -
Tidak tahan gesekan mesin.
Proses menenun tangan menghasilkan tekstur halus dan motif rapat, tetapi rentan rusak bila terkena gesekan drum mesin cuci. Gesekan tersebut bisa menyebabkan benang terlepas atau motif berubah bentuk. -
Kerapatan tenun tangan.
Tenun tradisional memiliki struktur padat yang bisa mengendur jika direndam terlalu lama atau diperas dengan keras. Karena itu, perawatan harus dilakukan secara manual agar tidak mengubah bentuk asli kain.
Apa Risiko Jika Dicuci Sembarangan?
Jika mencuci tanpa memperhatikan karakteristik kain, tenun NTT bisa kehilangan keindahannya. Berikut beberapa risiko umum yang perlu dihindari:
-
Warna cepat pudar akibat penggunaan detergen kimia kuat atau air panas.
-
Benang mengembang dan kendur karena terlalu lama direndam atau diperas keras.
-
Motif kehilangan keindahan, terutama jika dijemur di bawah sinar matahari langsung.
Setiap motif tenun NTT, seperti motif Amarasi atau Insana, memiliki filosofi budaya yang dalam. Karenanya, menjaga tekstur dan warna kain berarti menjaga identitas budaya itu sendiri.
Bagaimana Cara Mencuci Kain Tenun NTT dengan Benar?
Merawat tenun NTT bukan hanya soal teknik, tetapi juga bentuk penghormatan pada nilai budaya dan keindahan lokal. Meski tampak rumit, langkah-langkah mencucinya sebenarnya sederhana jika dilakukan dengan lembut dan rutin.
Langkah Mencuci Manual yang Aman
Berikut panduan praktis untuk Anda yang ingin menjaga tenun tetap awet dan elegan:
-
Rendam singkat dengan air dingin.
Gunakan air bersuhu normal, jangan panas. Cukup rendam selama 5–10 menit agar kotoran terangkat tanpa merusak serat. -
Gunakan sabun bayi atau cair lembut.
Pilih sabun tanpa pemutih dan pewangi sintetis. Sabun bayi cair atau sabun organik berbahan dasar minyak nabati sangat disarankan. -
Cuci dengan tangan perlahan.
Hindari mengucek keras atau memeras kuat. Cukup tekan-tekan lembut permukaan kain untuk menghilangkan noda ringan. -
Hindari pemutih dan mesin cuci.
Bahan kimia pemutih dapat merusak warna alami pewarna tumbuhan seperti nila, mengkudu, atau kunyit. Mesin cuci juga dapat menyebabkan benang longgar atau kusut. -
Bilas dengan air bersih hingga sabun hilang.
Pastikan tidak ada sisa sabun agar kain tidak kaku saat kering. -
Keringkan di tempat teduh.
Jemur dengan posisi digantung menggunakan hanger lebar di area berangin, jauh dari sinar matahari langsung.
Langkah sederhana ini mampu menjaga warna dan tekstur kain tetap lembut, serta memperpanjang umur pakaian berbahan tenun NTT—baik itu blazer tenun, outer, atau kain lembaran.
Tips dari Ahli Tekstil Lokal
“Tenun tangan tak bisa diperlakukan seperti kain pabrik. Ia butuh sentuhan lembut, seperti merawat warisan keluarga.” – Dr. Maria Yuliana, Ahli Tekstil UGM.
Kutipan ini menegaskan bahwa mencuci tenun bukan sekadar aktivitas rutin, tapi bentuk kepedulian terhadap budaya. Menurut para ahli, proses perawatan kain tradisional harus disesuaikan dengan karakter bahannya agar keaslian tetap terjaga.
Selain langkah mencuci, penting juga memperhatikan hal-hal berikut:
-
Gunakan sabun organik alami atau larutan garam lembut untuk menjaga warna tetap stabil.
-
Jangan menjemur di bawah matahari langsung; sinar UV bisa membuat pewarna alami memudar.
-
Hindari menyetrika dengan suhu tinggi; gunakan lap tipis sebagai pelapis antara setrika dan kain.
Perawatan yang benar bukan hanya membuat kain tenun NTT lebih tahan lama, tetapi juga mempertahankan nilai estetik dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Setiap benang adalah hasil dedikasi dan seni, sehingga pantas diperlakukan dengan penuh kasih dan ketelitian.
Kini, semakin banyak wanita profesional yang memilih fashion etnik modern dari Padu Padan Tenun—memadukan heritage budaya NTT dengan gaya kerja masa kini. Namun, keindahan itu hanya akan terus bersinar bila kita tahu cara mencuci kain tenun NTT dengan benar, penuh cinta, dan penghargaan pada budaya yang melahirkannya.
Apakah Kain Tenun Boleh Dicuci Pakai Mesin?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan pecinta fashion etnik, terutama mereka yang baru mulai mengoleksi kain tenun NTT. Banyak wanita muda profesional yang sibuk bekerja berharap bisa mencuci tenun dengan cara praktis, termasuk menggunakan mesin cuci. Namun, sebaiknya langkah ini perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Kain tenun tradisional NTT bukanlah kain industri biasa yang bisa tahan terhadap gesekan, putaran cepat, dan suhu tinggi dari mesin cuci.
Kain ini dibuat dari serat alami seperti kapas dan sutra, serta diwarnai dengan pewarna alami yang diperoleh dari tumbuhan dan akar-akar lokal. Proses tradisional inilah yang membuat setiap helai tenun begitu istimewa, namun sekaligus sensitif terhadap perlakuan kasar. Untuk itu, memahami risiko mencuci tenun dengan mesin menjadi langkah awal dalam menjaga keindahannya agar tetap awet dan tidak luntur.
Risiko Mesin Cuci untuk Tenun Tradisional
-
Gesekan drum merusak serat.
Saat mesin berputar, drum bagian dalam menciptakan gesekan konstan yang dapat menarik dan memutus benang tenun. Hasilnya, struktur kain menjadi longgar dan benang bisa terlepas dari motif aslinya. -
Warna alami cepat pudar.
Pewarna alami dari bahan seperti indigo, kulit kayu, atau daun mengkudu tidak sekuat pewarna sintetis. Putaran cepat dan air panas dari mesin bisa membuat warna cepat luntur dan kain kehilangan kilau alaminya. -
Tekstur jadi kasar.
Salah satu daya tarik tenun NTT adalah teksturnya yang lembut dan padat. Ketika dicuci dengan mesin, permukaan kain bisa terasa lebih kasar, bahkan seratnya menebal karena tekanan air dan putaran berulang.
Sebagai seseorang yang telah menggunakan tenun selama bertahun-tahun, saya pernah tergoda mencoba mencucinya dengan mode lembut di mesin cuci. Hasilnya? Motif memang tetap terlihat, tetapi kelembutan khasnya hilang. Dari situ saya belajar bahwa keindahan tenun tidak sepadan dengan kepraktisan semu yang ditawarkan mesin. Kain ini layak mendapatkan perhatian lebih—seperti merawat karya seni yang hidup.
Alternatif Aman untuk Profesional Sibuk
Bagi wanita aktif yang memiliki waktu terbatas namun tetap ingin menjaga tenun tetap prima, ada beberapa alternatif aman yang bisa dilakukan tanpa mengorbankan kualitas kain:
-
Gunakan laundry khusus kain tradisional.
Saat ini, di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Denpasar sudah banyak layanan laundry yang memahami karakteristik wastra Indonesia. Mereka menggunakan sabun lembut dan metode cuci tangan profesional. Pastikan Anda memberi tahu petugas bahwa kain tersebut adalah tenun asli NTT agar mendapat perlakuan khusus. -
Pilih mode “hand wash” jika terpaksa memakai mesin.
Beberapa mesin cuci modern memiliki mode “hand wash” atau “gentle care” dengan putaran lambat. Mode ini bisa digunakan bila Anda benar-benar tidak sempat mencuci manual. Gunakan air dingin dan waktu putaran sesingkat mungkin. -
Bungkus dengan jaring pelindung.
Gunakan laundry net (kantung jaring) agar kain tidak langsung bergesekan dengan drum. Ini membantu mengurangi risiko serat tertarik dan motif rusak.
Sebagai seorang profesional yang juga mencintai budaya lokal, saya percaya bahwa perawatan tenun NTT adalah refleksi dari cara kita menghargai nilai-nilai tradisi dalam kehidupan modern. Merawatnya dengan hati-hati bukan hanya menjaga pakaian, tetapi juga bentuk nyata dari kecintaan terhadap keberlanjutan budaya Indonesia.
Sabun Apa yang Aman untuk Kain Tenun NTT?
Selain teknik mencuci, pemilihan sabun juga berperan penting dalam menjaga ketahanan warna dan tekstur kain tenun NTT. Banyak orang tidak sadar bahwa bahan pembersih biasa di pasaran mengandung bahan kimia keras yang bisa mempercepat pelapukan serat dan memudarkan pewarna alami. Memilih sabun yang tepat adalah langkah sederhana namun krusial untuk mempertahankan keaslian tenun.
Pilihan Sabun dan Deterjen Lembut
-
Sabun bayi cair.
Formula sabun bayi yang lembut, bebas pemutih, dan minim pewangi sintetis sangat cocok digunakan untuk tenun. Sabun ini menjaga kelembutan serat tanpa mengubah warna kain. -
Deterjen organik tanpa pewangi sintetis.
Produk alami berbasis minyak kelapa, jeruk, atau aloe vera bisa menjadi pilihan aman. Kandungan alaminya membantu menjaga keseimbangan serat kain tanpa membuatnya kaku. -
Larutan garam untuk menjaga warna.
Garam dapur dapat membantu mempertahankan warna alami tenun. Cukup campurkan satu sendok makan garam ke dalam air rendaman pertama sebelum mencuci.
Penggunaan sabun yang tepat juga mendukung prinsip slow fashion yang diusung oleh banyak brand wastra lokal, termasuk Padu Padan Tenun. Setiap tetes sabun lembut yang digunakan berarti langkah kecil menjaga bumi dan budaya.
Hindari Zat Kimia Keras dan Pewangi
-
Tidak gunakan pemutih atau pelembut kimia.
Bahan-bahan ini dapat mengikis lapisan warna alami dan meninggalkan residu yang merusak struktur kain. Selain itu, pewangi sintetis bisa menimbulkan bercak atau membuat kain terasa lengket setelah kering. -
Pewangi alami seperti daun pandan atau jeruk bisa jadi alternatif.
Selain memberikan aroma segar alami, bahan ini tidak meninggalkan noda dan membantu menjaga kelembutan kain. Anda bisa menambahkan beberapa helai daun pandan saat proses perendaman akhir.
Dari pengalaman pribadi, mencuci dengan sabun bayi cair dan menambahkan larutan garam memberi hasil yang luar biasa. Warna tetap cemerlang, serat tetap lembut, dan aroma segarnya terasa alami tanpa perlu pewangi tambahan. Ini membuktikan bahwa perawatan sederhana dengan bahan alami justru memberikan hasil terbaik untuk kain tradisional yang penuh makna seperti tenun NTT.
Memahami dan menerapkan cara mencuci kain tenun NTT dengan sabun lembut serta metode aman bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah melewati ratusan tahun tradisi menenun. Saat kain tenun Anda tetap indah dan berkilau alami, di situlah terlihat bagaimana cinta terhadap budaya dapat hidup di setiap helai benang.
Bagaimana Cara Mengeringkan Kain Tenun agar Tidak Rusak?
Setelah melalui proses pencucian yang lembut, langkah selanjutnya dalam cara mencuci kain tenun NTT yang benar adalah tahap pengeringan. Banyak yang menganggap tahap ini sepele, padahal justru di sinilah kualitas kain tenun bisa rusak bila tidak ditangani dengan hati-hati. Kain tenun NTT yang terbuat dari serat alami seperti kapas atau sutra memiliki karakteristik halus dan padat. Jika dikeringkan dengan cara yang salah—misalnya dijemur langsung di bawah sinar matahari atau diperas terlalu kuat—struktur seratnya dapat berubah, menyebabkan warna memudar, bahkan motif menjadi kusam.
Tenun tradisional merupakan warisan budaya yang mengandung filosofi mendalam. Setiap helai kainnya memuat doa, kesabaran, dan keindahan tangan para penenun Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu, merawatnya bukan sekadar menjaga penampilan, tetapi juga menghormati nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
Teknik Pengeringan Alami
Agar kain tenun tetap lembut dan tahan lama, metode pengeringan yang paling direkomendasikan adalah pengeringan alami. Berikut langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah:
-
Keringkan di tempat teduh.
Hindari sinar matahari langsung karena sinar UV dapat memecah pigmen pewarna alami dan membuat warna cepat pudar. Jemur di tempat yang cukup angin, seperti di teras atau ruangan semi-terbuka. -
Jangan dijemur langsung di bawah matahari.
Walau terlihat praktis, menjemur di bawah terik matahari bisa membuat serat menjadi kaku dan rapuh. Sinar matahari yang terlalu kuat dapat merusak struktur tenunan halus pada kain NTT. -
Gantung di hanger lebar.
Gunakan hanger berbentuk lebar atau batang bambu agar kain tidak meninggalkan bekas lipatan. Hindari penjepit jemuran yang bisa menimbulkan bekas permanen pada kain.
Selain memperhatikan teknik dasar ini, sebaiknya jangan mengeringkan kain dengan mesin pengering. Putaran panas yang dihasilkan mesin dapat mengubah bentuk serat dan menyebabkan tenun kehilangan kehalusannya.
Tips Menjaga Bentuk dan Warna
Selain cara menggantung, penting juga memperhatikan detail kecil saat mengeringkan agar warna dan bentuk tenun tetap sempurna.
-
Jemur sisi dalam.
Balik kain sebelum dijemur agar warna bagian luar tidak langsung terkena sinar. Langkah ini membantu mempertahankan kilau alami tenun. -
Ratakan serat dengan tangan.
Setelah dibilas, bentangkan kain dengan lembut dan ratakan permukaannya menggunakan tangan. Ini mencegah serat mengerut atau menumpuk di satu sisi. -
Jangan diperas kuat.
Hindari memeras kain untuk mengeluarkan air. Cukup letakkan di atas handuk kering, gulung perlahan, dan tekan ringan agar air terserap.
Menurut Dr. Lilis Wulandari, ahli tekstil dari Institut Seni Indonesia,
“Tenun tradisional harus diperlakukan seperti karya seni. Tahapan menjemur dan melipatnya sama pentingnya dengan proses mencuci. Kelembutan alami kain akan bertahan jika pengeringan dilakukan dengan udara, bukan panas buatan.”
Dengan langkah pengeringan yang tepat, warna tenun akan tetap tajam, tekstur tetap lembut, dan serat alami tidak kehilangan kekuatannya.
Cara Menyetrika dan Menyimpan Kain Tenun dengan Benar
Setelah kering, tahapan berikutnya adalah menyetrika dan menyimpan. Dua hal ini tampak sederhana, namun bisa menjadi penentu seberapa lama kain tenun Anda bertahan dalam kondisi prima.
Teknik Setrika Aman
-
Gunakan suhu rendah.
Suhu panas tinggi bisa merusak serat alami dan membuat motif pudar. Gunakan setrika pada mode “silk” atau “delicate.” -
Lapisi kain tipis di atas tenun.
Letakkan kain katun tipis sebagai pelindung antara setrika dan kain tenun. Cara ini mencegah kontak langsung dengan panas, menjaga warna tetap hidup. -
Hindari semprotan air langsung.
Air yang disemprotkan langsung bisa menyebabkan bercak pada tenun berpewarna alami. Jika perlu, gunakan semprotan halus dari jarak jauh atau setrika dalam kondisi sedikit lembab.
Menyetrika bukan sekadar membuat kain licin, tetapi juga mengembalikan bentuk dan kerapian alami tenun setelah proses pengeringan. Beberapa pengrajin bahkan menyarankan untuk tidak menyetrika terlalu sering agar tekstur alami kain tidak hilang.
Penyimpanan Ideal
Untuk menjaga kain tenun NTT tetap awet dalam jangka panjang, cara menyimpannya juga harus diperhatikan. Berikut panduan sederhana namun efektif:
-
Gulung, bukan dilipat.
Melipat kain bisa menyebabkan garis lipatan permanen dan merusak serat halus. Gulung kain dengan tabung karton di bagian tengah agar bentuknya tetap terjaga. -
Simpan dalam kain katun.
Hindari plastik karena bisa menimbulkan lembap. Gunakan pembungkus kain katun tipis agar sirkulasi udara tetap lancar dan kain tidak berjamur. -
Hindari plastik tertutup.
Udara yang terperangkap di plastik dapat memicu pertumbuhan jamur, terutama di daerah tropis yang lembap.
Penyimpanan yang tepat menjaga aroma alami kain, mencegah kelembapan, dan memastikan setiap motif tenun tetap hidup saat dikenakan kembali.
Bagaimana Merawat Tenun NTT agar Tetap Elegan Bertahun-tahun?
Setiap perempuan yang mengenakan tenun NTT pasti ingin kainnya tetap indah dan elegan meski telah digunakan berkali-kali. Rahasianya ada pada konsistensi dalam merawatnya—dari mencuci, mengeringkan, hingga menyimpan dengan benar.
Perawatan Berkala dan Penyimpanan Musiman
-
Angin-anginkan 1x sebulan.
Keluarkan kain dari lemari dan gantung di tempat teduh selama beberapa jam agar sirkulasi udara mencegah jamur dan bau apek. -
Hindari kelembapan tinggi.
Gunakan silica gel atau kapur barus alami dari bunga kering agar ruang penyimpanan tetap kering. -
Periksa kondisi kain secara berkala.
Pastikan tidak ada benang yang terlepas. Jika ada, jahit halus menggunakan warna benang senada.
Perawatan rutin ini membantu tenun bertahan bertahun-tahun tanpa kehilangan keanggunannya. Banyak pelanggan setia Padu Padan Tenun yang mewariskan koleksi tenunnya kepada anak-anak mereka sebagai simbol kebanggaan akan budaya lokal.
Ritual Cinta untuk Warisan Budaya
“Merawat tenun itu seperti menjaga identitas. Setiap helainya membawa cerita perempuan-perempuan NTT.”
Sebagai pengguna tenun, saya menyadari bahwa setiap kali mencuci, menjemur, atau melipat, ada rasa hormat yang tumbuh. Kain tenun NTT bukan hanya busana indah; ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Perawatan lembut bukan hanya tindakan praktis, melainkan bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal dan nilai keberlanjutan yang dipegang teguh oleh para penenun.
Saya masih ingat pertama kali membeli tenun dari Kupang—motifnya indah, warnanya lembut, dan terasa hangat di kulit. Sejak itu, saya berjanji untuk memperlakukan setiap helai kain dengan kasih dan perhatian. Menjemurnya di tempat teduh, menggulungnya perlahan, bahkan menyetrikanya dengan hati-hati menjadi semacam ritual pribadi. Dari proses itu, saya belajar bahwa keindahan sejati tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari rasa hormat dan kesabaran.
Bagi wanita profesional modern, mengenakan tenun adalah bentuk ekspresi diri yang sarat makna. Setiap kali kita merawatnya, kita sebenarnya sedang memperpanjang usia budaya yang telah diwariskan ratusan tahun.
Ingin koleksi tenun yang elegan dan mudah dirawat? Jelajahi koleksi terbaru di padupadantenun.co.id.
Dengan perawatan menyeluruh mulai dari pencucian, pengeringan, hingga penyimpanan, Anda telah melakukan lebih dari sekadar menjaga kain tetap indah. Anda sedang melanjutkan tradisi—menenun ulang cerita dan makna dari setiap helai kain tenun NTT agar tetap hidup dalam gaya hidup modern Anda.
FAQ – People Also Ask tentang Cara Mencuci Kain Tenun NTT
1. Apakah kain tenun NTT boleh dicuci menggunakan mesin cuci?
Tidak disarankan. Mesin cuci dapat merusak serat alami tenun dan membuat warna cepat pudar karena gesekan drum dan putaran tinggi. Jika terpaksa, gunakan mode “hand wash” dengan air dingin dan bungkus kain menggunakan jaring pelindung agar motif tidak rusak.
2. Bagaimana cara mencuci kain tenun NTT agar tidak luntur?
Gunakan air dingin, sabun bayi cair, atau deterjen organik tanpa pemutih dan pewangi sintetis. Jangan merendam terlalu lama (maksimal 10 menit) dan hindari pemutih. Untuk menjaga warna alami, bisa tambahkan sedikit garam pada air rendaman pertama.
3. Apakah kain tenun boleh dijemur di bawah sinar matahari langsung?
Tidak. Sinar UV dari matahari dapat memudarkan warna alami dan membuat serat menjadi kaku. Sebaiknya keringkan kain tenun di tempat teduh dan berangin dengan cara digantung pada hanger lebar agar bentuknya tetap rapi.
4. Apa jenis sabun terbaik untuk mencuci kain tenun NTT?
Sabun bayi cair atau sabun organik berbasis minyak alami adalah pilihan terbaik. Hindari pemutih, deterjen kimia keras, dan pelembut kain. Jika ingin menambah aroma, gunakan bahan alami seperti daun pandan, kulit jeruk, atau serai.
5. Bagaimana cara menyimpan kain tenun agar tidak berjamur?
Simpan kain dalam posisi digulung, bukan dilipat, lalu bungkus dengan kain katun agar sirkulasi udara tetap baik. Hindari penggunaan plastik tertutup. Pastikan juga ruang penyimpanan kering dan tambahkan silica gel atau kapur barus alami dari bunga kering.
6. Apakah kain tenun NTT perlu disetrika?
Boleh, asalkan menggunakan suhu rendah dan dilapisi kain tipis di atasnya. Jangan menyemprotkan air langsung ke kain karena bisa menimbulkan bercak, terutama pada tenun dengan pewarna alami. Gunakan mode “silk” atau “delicate” agar aman.
7. Bagaimana cara menjaga tenun NTT agar tetap lembut dan berkilau?
Selain mencuci dengan sabun lembut dan mengeringkan di tempat teduh, angin-anginkan kain sebulan sekali untuk menjaga kelembapan alami. Hindari penyimpanan di tempat lembap dan jauhkan dari sinar matahari langsung agar warna tetap cemerlang.
8. Apakah semua jenis tenun NTT dirawat dengan cara yang sama?
Sebagian besar iya, terutama yang terbuat dari serat alami seperti kapas dan sutra. Namun, beberapa tenun premium dengan kombinasi serat sintetis mungkin lebih tahan terhadap gesekan. Selalu perhatikan label perawatan atau konsultasikan langsung dengan penjual sebelum mencuci.
9. Berapa kali kain tenun sebaiknya dicuci?
Cuci hanya ketika benar-benar kotor atau setelah beberapa kali pemakaian. Terlalu sering dicuci bisa mempercepat pelapukan serat dan memudarkan warna alami. Untuk perawatan ringan, cukup angin-anginkan di tempat teduh setiap 1–2 minggu sekali.
10. Bagaimana cara mengembalikan warna tenun yang mulai kusam?
Gunakan larutan garam ringan saat mencuci pertama untuk menstabilkan warna. Hindari deterjen keras. Untuk perawatan alami, rendam sebentar dalam air rebusan daun jambu biji atau teh pekat, lalu bilas dengan air bersih tanpa sabun.
Ingin tahu lebih banyak cara merawat dan memilih kain tenun NTT yang elegan?
✨ Jelajahi artikel, panduan, dan koleksi eksklusif hanya di padupadantenun.co.id — tempat di mana gaya modern bertemu dengan warisan budaya Indonesia.




