
Menelusuri Warisan Budaya dalam Setiap Helai Benang
Apa nama jenis kain tradisional yang ditenun oleh perempuan NTT? Pertanyaan ini membuka gerbang menuju salah satu warisan budaya tekstil terkaya di Indonesia. Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan berbagai jenis kain tenun yang masing-masing memiliki teknik, motif, hingga filosofi yang berbeda-beda. Dari Sumba hingga Kupang, para perempuan penenun telah merawat tradisi ini secara turun-temurun, menjadikannya bukan sekadar produk tekstil, tapi narasi budaya yang hidup.
Sebagian besar tenun NTT dikerjakan secara manual dengan alat tenun tradisional dan pewarna alami. Beberapa nama kain yang paling dikenal meliputi Tenun Ikat Sumba, Tenun Buna, Tenun Insana, dan Tenun Amarasi. Setiap jenis membawa makna simbolik yang mendalam, baik secara estetika, sejarah, maupun nilai sosial.
Apa saja jenis kain tradisional yang ditenun perempuan NTT?
Tenun Ikat Sumba
Tenun Ikat dari Pulau Sumba adalah salah satu jenis kain yang paling dikenal dari NTT, bahkan hingga ke pasar internasional. Dikenal akan warna-warnanya yang berani seperti merah-bata, indigo alami, dan hitam pekat, Tenun Ikat Sumba memiliki teknik pewarnaan khusus di mana benang diikat terlebih dahulu sebelum ditenun.
Motif-motifnya biasanya menampilkan simbol kuda Sumba, manusia dalam pose ritual, serta flora dan fauna yang merepresentasikan nilai kehidupan, kekuatan, dan spiritualitas. Perempuan Sumba menenun bukan hanya untuk menghasilkan pakaian, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup: dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian.
Tenun Ikat Sumba menjadi bukti bagaimana teknik tekstil tradisional dipadukan dengan warisan budaya tekstil yang kuat. Tak heran jika kain ini kini juga hadir dalam bentuk modern seperti dress etnik, outerwear, dan bahkan clutch bag berbahan tenun premium.
Tenun Buna & Insana dari Belu dan TTU
Masuk ke wilayah Timor Barat, kita akan menemukan Tenun Buna dan Tenun Insana dari Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara (TTU). Kedua jenis kain ini menggunakan teknik tenun sisip (bukan ikat), di mana motif disisipkan ke dalam benang pakan dengan sangat halus. Ini menjadikan kainnya lebih padat dan kaya warna.
Tenun Buna terkenal dengan motifnya yang lebih rumit, sering kali menggambarkan alam dan simbol keseharian seperti burung, bunga, dan pola geometris. Sementara itu, Tenun Insana sering menonjolkan warna-warna tanah dan kehangatan khas NTT, membuatnya terasa sangat humanis dan dekat.
Dalam masyarakat Belu dan TTU, perempuan penenun adalah penjaga kearifan lokal. Mereka mewariskan keterampilan ini dari ibu ke anak perempuan. Hingga kini, banyak komunitas penenun tetap aktif, bahkan menjadi bagian dari program ekonomi kreatif daerah.
Tenun Amarasi dari Kupang
Tenun Amarasi berasal dari wilayah Amarasi, Kabupaten Kupang. Tenun ini lebih sederhana dalam motif dibandingkan Sumba atau Belu, namun tetap kaya makna. Corak garis-garis geometris dan warna-warna netral seperti coklat tua, krem, dan hitam menjadikannya cocok untuk busana sehari-hari.
Karakteristik utama Tenun Amarasi adalah ketegasan garis dan komposisi warna yang stabil, mencerminkan kestabilan sosial dan struktur masyarakat Amarasi. Tenun ini biasanya digunakan untuk acara adat, namun kini mulai diadaptasi dalam fashion etnik modern, seperti outer ringan dan blazer untuk ke kantor.
Menariknya, banyak perempuan Amarasi yang kini berkolaborasi langsung dengan desainer lokal maupun brand seperti Padu Padan Tenun, menghasilkan koleksi eksklusif yang tetap menghargai akar budaya namun siap pakai dan relevan untuk perempuan urban masa kini.
Apa filosofi di balik motif kain tenun NTT?
Makna kuda, garis, dan warna dalam tenun
Setiap motif tenun NTT bukan sekadar dekoratif, melainkan menyimpan filosofi mendalam. Motif kuda Sumba, misalnya, bukan hanya simbol hewan, melainkan representasi status, kekuatan, dan kebebasan. Kuda juga digunakan dalam berbagai ritual penting, menjadikan motif ini sangat sakral.
Motif garis geometris Amarasi mencerminkan struktur, harmoni, dan kedisiplinan hidup masyarakat. Garis-garis ini juga bisa dimaknai sebagai alur kehidupan yang teratur dan terhubung dengan nilai komunitas.
Warna-warna tanah, seperti merah bata, coklat, dan hitam, sering dipakai karena berasal dari pewarna alami yang diolah dari akar, daun, dan tanah liat. Warna bukan hanya soal estetika, tapi juga penanda wilayah, status sosial, hingga afiliasi keluarga. Misalnya, warna merah menyimbolkan keberanian dan energi hidup, sedangkan hitam melambangkan keteguhan dan ketegasan hati.
Fungsi sosial dan simbol status dalam masyarakat
Dalam budaya masyarakat NTT, kain tenun bukan sekadar pakaian. Ia adalah identitas sosial dan simbol status. Kain tertentu hanya boleh dikenakan oleh keturunan bangsawan atau pemimpin adat. Bahkan hingga hari ini, masih ada aturan tak tertulis tentang siapa boleh memakai motif tertentu dalam upacara adat.
Kain tenun juga menjadi alat transaksi sosial—diberikan dalam upacara pernikahan, sebagai mas kawin, penebus kesalahan, hingga simbol penyatuan dua keluarga besar. Karena itu, kain tradisional NTT ditenun dengan kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar aktivitas ekonomi.
Penenun perempuan memainkan peran vital. Mereka bukan hanya produsen, tetapi pemelihara memori kolektif, penyambung warisan, dan pencipta makna dalam bentuk yang bisa dikenakan. Dalam masyarakat yang sebagian besar masih memegang nilai komunal, kemampuan menenun bahkan menaikkan status sosial perempuan.
Mengenal berbagai jenis kain tradisional yang ditenun oleh perempuan NTT adalah langkah awal untuk memahami betapa kayanya warisan budaya Indonesia. Dari teknik ikat yang rumit hingga motif geometris yang filosofis, setiap kain memuat kisah tentang tanah, perempuan, dan perjalanan sejarah. Warisan ini kini hadir kembali dalam bentuk fashion etnik modern yang relevan dan elegan—menjawab kebutuhan perempuan masa kini yang bergerak, namun tetap terhubung dengan akar budayanya.
Siapa para perempuan di balik tenunan ini?
Peran perempuan sebagai penjaga warisan budaya
Di balik keindahan selembar kain tenun NTT, berdiri tegak sosok-sosok perempuan yang setia merawat warisan budaya. Mereka adalah ibu, nenek, anak gadis yang sejak usia belia telah belajar membaca benang, menghafal motif, dan mengolah warna dari alam. Di banyak wilayah Nusa Tenggara Timur—dari Sumba Barat Daya hingga Timor Tengah Utara—perempuan bukan hanya pencipta tenun, tapi juga pemegang pengetahuan lintas generasi.
Menjadi penenun bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah identitas. Di banyak komunitas adat, perempuan dinilai dewasa dan dihormati jika sudah mampu menenun. Aktivitas menenun menjadi ruang ekspresi diri, spiritualitas, hingga pendidikan informal untuk anak-anak mereka. Banyak motif yang mereka hasilkan mengandung cerita leluhur, doa, hingga simbol hubungan mereka dengan tanah dan alam sekitar.
Dalam praktiknya, perempuan menenun di sela-sela pekerjaan rumah tangga, bercocok tanam, atau saat menjaga anak. Ritme kehidupan mereka berputar di antara alat tenun gedogan, benang katun, dan air rendaman daun nila. Ketika benang mulai menyatu menjadi pola, mereka tidak sekadar menciptakan tekstil—mereka sedang menulis sejarah.
Perempuan penenun juga menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga. Dalam konteks modern, banyak dari mereka kini menjadi anggota koperasi tenun, pelaku UMKM, hingga duta budaya dalam berbagai pameran lokal dan nasional. Mereka bertransformasi dari penjaga tradisi menjadi agen perubahan yang mandiri.
Cerita Bu Eliza dari Amarasi (bisa diangkat sebagai kutipan)
Salah satu wajah nyata dari kisah ini adalah Bu Eliza, penenun dari Amarasi, Kupang. Sudah lebih dari 30 tahun ia menganyam benang menjadi pola-pola geometris khas Amarasi. Kepada tim Padu Padan Tenun, ia pernah berkata,
“Saya menenun bukan untuk disimpan. Saya menenun untuk dipakai orang, supaya cerita saya hidup di mana-mana.”
Bu Eliza adalah potret perempuan NTT masa kini—tetap berpijak pada tanah tradisi, tapi terbuka pada dunia luar. Ia pernah menolak dijadikan sekadar “pengrajin latar” di sebuah proyek besar. Ia ingin terlibat sejak desain awal. Katanya,
“Kalau saya hanya suruh buat motif yang itu-itu saja, saya tidak bangga. Tapi kalau saya bisa kasih ide motif baru, itu artinya saya dihargai.”
Kini, hasil tenun Bu Eliza telah menjadi bagian dari koleksi eksklusif blazer kerja dan dress dalam koleksi terbatas Padu Padan Tenun. Motifnya tidak lagi hanya muncul di seremoni adat, tapi juga menghiasi ruang seminar, acara diplomatik, hingga event komunitas urban. Cerita Bu Eliza bukanlah cerita tunggal. Ia adalah wajah dari ratusan, bahkan ribuan perempuan penenun yang terus berdialog antara masa lalu dan masa kini.
Bagaimana tenun NTT hadir dalam fashion modern?
Kolaborasi antara desainer dan penenun
Untuk bisa masuk ke panggung fashion modern, tenun NTT tidak bisa berdiri sendiri. Ia perlu ruang dialog, kolaborasi, dan inovasi. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama antara desainer, komunitas wastra, dan brand lokal telah mendorong transformasi besar dalam cara tenun ditampilkan.
Kolaborasi ini bukan sekadar urusan estetika, tapi juga narasi. Desainer muda kini tidak lagi memaksakan gaya metropolitan ke atas tenun, melainkan belajar memahami filosofi motif, asal usul warna, hingga karakter tiap wilayah tenun seperti Sumba Barat, Belu, dan Amarasi. Mereka mendatangi para penenun, berdiskusi tentang motif kuda, garis-garis Insana, atau makna warna merah-bata khas Amarasi.
Dari kolaborasi jenis kain tradisional itu lahirlah karya-karya yang tak hanya indah, tapi juga punya cerita. Tenun NTT kini hadir dalam siluet blazer wanita, crop outer, jaket pria, bahkan aksesori seperti bucket hat dan clutch bag. Perpaduan ini tidak menghilangkan nilai tradisi, justru menguatkannya dalam bahasa visual yang relevan bagi generasi baru.
Fashion show berbasis wastra seperti IN2MF atau ISEF menjadi panggung penting untuk mengenalkan hasil kolaborasi ini. Selain itu, banyak desainer independen yang juga membuat capsule collection berbasis tenun NTT dengan pendekatan slow fashion, yang lebih berkelanjutan dan beretika.
Yang terpenting, kolaborasi ini bukan hanya soal pasar dan tren. Ia membangun ekosistem berbasis nilai: keadilan untuk penenun, keaslian budaya, dan konsumen yang makin sadar akan budaya tekstil Indonesia.
Inovasi Padu Padan Tenun: dari adat ke blazer kerja
Salah satu brand yang konsisten menjembatani warisan tenun NTT dengan jenis kain tradisional dan gaya hidup modern adalah Padu Padan Tenun. Didirikan dengan semangat untuk “menghidupkan cerita dari setiap benang”, brand ini bekerja langsung dengan penenun lokal, bukan hanya sebagai vendor, tapi sebagai mitra kreatif.
Inovasi Padu Padan Tenun tidak sekadar menghadirkan tenun sebagai bahan, melainkan mengubah cara kita melihat fungsi tenun dalam keseharian. Produk seperti blazer kerja berbahan Tenun Amarasi, dress semiformal dengan aksen Insana, hingga tas selempang dari Tenun Sumba adalah contoh konkret bagaimana kain adat bisa menjadi bagian dari penampilan perempuan modern.
Padu Padan Tenun juga membuka layanan custom by request jenis kain tradisional, di mana pelanggan dapat memilih motif tenun, warna, hingga jenis potongan. Dalam proses ini, pelanggan menjadi bagian dari narasi: bukan sekadar pembeli, tapi pemilik cerita.
Motif yang dulu hanya terlihat di seremoni atau pajangan rumah kini tampil dengan bangga di ruang rapat, konferensi, bahkan di panggung TEDx. Inilah jenis kain tradisional dan bentuk nyata dari transformasi budaya yang elegan: menghormati masa lalu, tetapi tidak berhenti di sana.
Salah satu cerita paling mengesankan datang dari seorang pelanggan diaspora NTT yang memesan blazer custom untuk dipakai saat menjadi pembicara di PBB. Ia berkata,
“Saya ingin dunia tahu, bahwa saya datang membawa pengetahuan—dan juga warisan.”
Transformasi ini menjadi misi utama Padu Padan Tenun: menghadirkan warisan budaya dalam bentuk yang hidup, relevan, dan bisa dikenakan oleh perempuan yang bergerak.
Related Post:
Blazer Tenun Wanita: Perpaduan Etnik & Profesionalisme Modern by Padu Padan Tenun
Kenapa penting mengenakan dan melestarikan tenun NTT?
Dukungan terhadap UMKM lokal
Mengenakan tenun NTT bukan hanya soal gaya, tetapi juga tindakan nyata dalam jenis kain tradisional mendukung keberlanjutan ekonomi lokal. Setiap helai tenun yang kita pakai mewakili kerja keras komunitas penenun perempuan, yang sebagian besar adalah pelaku UMKM tradisional. Mereka tidak hanya menganyam benang, tetapi juga menganyam harapan akan kehidupan yang lebih mandiri.
Dalam konteks ekonomi kreatif, tenun bukan sekadar produk, melainkan bagian dari rantai nilai berbasis komunitas. jenis kain tradisional Para penenun di Sumba, Belu, hingga Amarasi sering kali bekerja dalam kelompok kecil atau koperasi keluarga. Ketika Anda membeli tenun asli—terlebih dari brand yang bekerja langsung dengan penenun seperti Padu Padan Tenun—Anda sedang memberi peluang hidup yang lebih layak, akses pendidikan untuk anak-anak mereka, serta keberlanjutan praktik budaya.
Berbeda dari produksi masal industri tekstil konvensional, tenun tradisional NTT dibuat dengan waktu, cinta, dan keterampilan tinggi. Butuh berminggu-minggu untuk menyelesaikan selembar kain, mulai dari memintal benang, mewarnai dengan bahan alami, hingga menenunnya motif demi motif. Maka setiap pembelian tenun adalah bentuk penghargaan atas proses, bukan sekadar produk.
Melalui fashion, kita bisa menjadi bagian dari gerakan sosial yang lebih besar: mengangkat UMKM perempuan, menjaga warisan budaya, dan menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil.
Meningkatkan identitas budaya dalam keseharian
Lebih dari tren, mengenakan tenun adalah pernyataan identitas. Di tengah gempuran globalisasi dan budaya cepat saji, tenun tradisional NTT mengingatkan kita untuk kembali kepada akar. Ia membawa serta cerita jenis kain tradisional leluhur, filosofi warna, dan simbol-simbol seperti kuda Sumba, motif Insana, atau garis geometris Amarasi yang mengandung makna keberanian, harmoni, dan keteguhan.
Mengenakan tenun dalam aktivitas harian—seperti blazer kerja, dress formal, atau tas etnik—adalah cara halus namun kuat untuk menegaskan jenis kain tradisional jati diri kita sebagai bagian dari Indonesia yang kaya budaya. Ia menyampaikan pesan bahwa kita menghargai keaslian, kualitas, dan makna dalam berpakaian.
Di banyak komunitas diaspora dan urban, tenun NTT bahkan menjadi bentuk ekspresi kebanggaan tersendiri. Perempuan yang mengenakan tenun ke kantor, forum internasional, atau komunitas kreatif, menunjukkan bahwa mereka bisa modern tanpa harus meninggalkan akar budayanya. Inilah esensi dari fashion etnik modern—bukan sekadar penampilan, tetapi sikap.
Bagaimana cara memilih tenun NTT yang berkualitas?
Beda tenun asli dan printing
Di tengah tingginya permintaan pasar terhadap produk etnik, banyak produk yang menggunakan motif tenun hasil printing, bukan hasil tenunan asli. Perbedaan antara keduanya sangat signifikan, baik dari segi kualitas, ketahanan, maupun nilai budaya.
Tenun asli dibuat dengan proses manual, di mana motif jenis kain tradisional terbentuk dari susunan benang yang ditenun satu per satu. Hasilnya akan terasa “timbul” jika diraba, dan pola motifnya tidak selalu 100% simetris—justru di situlah letak keaslian dan sentuhan manusiawinya. Warna pada tenun asli cenderung lebih dalam dan tidak mencolok, karena menggunakan pewarna alami seperti daun nila, akar mengkudu, atau tanah liat.
Sementara itu, tenun printing hanya menampilkan motif tenun sebagai gambar cetakan di atas kain pabrik. Walaupun mungkin lebih murah dan praktis, tenun printing tidak membawa makna simbolik dan nilai kerja tradisional yang dimiliki kain tenun asli.
Tips cepat mengenali tenun asli:
-
Periksa permukaan kain. Jika motifnya bisa diraba dan tampak berserat, kemungkinan besar itu tenun asli.
-
Cek bagian belakang kain. Pada jenis kain tradisional tenun asli, motif biasanya tembus atau bisa terlihat dari sisi belakang.
-
Tanyakan proses pembuatannya. Produk asli biasanya menyebut nama komunitas penenun, teknik yang digunakan (ikat, buna, sisip), dan waktu pengerjaan.
Mendukung tenun asli berarti mendukung keberlangsungan pengetahuan tekstil tradisional yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.
Tips memilih tenun ready-to-wear atau custom
Bagi kamu yang baru mulai mengenakan tenun atau ingin menjadikannya bagian dari gaya hidup, berikut beberapa tips memilih produk tenun yang sesuai kebutuhan:
1. Pahami kebutuhan dan gaya pribadi.
Apakah kamu mencarijenis kain tradisional busana etnik modern untuk kerja, atau dress tenun untuk acara khusus? Produk ready-to-wear sangat cocok untuk kamu yang ingin tampilan instan dan mengikuti tren, seperti blazer kombinasi Tenun Amarasi atau outer minimalis bermotif Insana.
2. Jika kamu ingin pengalaman lebih personal, pilih layanan custom.
Brand seperti Padu Padan Tenun menyediakan layanan di mana kamu bisa memilih motif, warna, hingga potongan busana sesuai karakter dan ukuran tubuhmu. Layanan ini ideal untuk mereka yang mencari busana dengan makna—baik untuk hadiah, penampilan panggung, atau bahkan sebagai bagian dari identitas kerja.
3. Pilih bahan yang nyaman dan berkualitas.
Tenun berkualitas tidak hanya kuat tapi juga nyaman dipakai. Hindari bahan tenun yang terlalu kaku atau kasar. Mintalah info tentang jenis benang yang digunakan (kapas alami lebih baik), serta finishing jahitan.
4. Utamakan brand yang transparan soal proses produksinya.
Transparansi adalah kunci. Brand tenun terpercaya biasanya menyebutkan siapa penenunnya, berapa lama proses pengerjaannya, dan dari daerah mana kain berasal. Ini menambah nilai emosional dan keaslian produk.
5. Sesuaikan warna dan motif dengan gaya urban.
Tenun tidak harus selalu berwarna cerah dan kontras. Kini banyak pilihan tenun dengan tone netral, motif geometris, atau warna tanah seperti indigo alami, coklat tua, dan krem yang mudah dipadupadankan untuk kegiatan sehari-hari.
Dengan pilihan yang tepat, kamu bisa tampil modis dan elegan, sekaligus membawa warisan budaya yang hidup dalam setiap langkah.
Saatnya berhenti memakai pakaian tanpa makna. Pilih yang punya cerita.
Tenun NTT adalah warisan hidup—ditenun oleh tangan perempuan, dibasuh oleh filosofi, dan kini hadir dalam gaya modern yang relevan. Jika kamu ingin mengenakan sesuatu yang benar-benar mewakili siapa dirimu—unik, kuat, berakar budaya—maka temukan koleksi tenun eksklusif kami hari ini.
📌 Jadikan penampilanmu bagian dari gerakan budaya. Lihat koleksi kami sekarang di padupadantenun.co.id/koleksi
FAQ: Seputar Kain Tenun NTT dan Fashion Etnik Modern
Apa itu kain tenun NTT dan dari mana asalnya?
Kain tenun NTT adalah kain tradisional yang dibuat secara manual oleh perempuan-perempuan di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur seperti Sumba, Belu, Kupang, dan Timor Tengah Utara. Tiap daerah memiliki teknik dan motif khas—seperti Tenun Ikat Sumba, Tenun Buna dari Belu, atau Tenun Amarasi dari Kupang—yang mencerminkan nilai filosofis, simbolik, dan sosial masyarakatnya.
Apa perbedaan antara baju tenun custom dan ready to wear?
Baju tenun custom memungkinkan pelanggan memilih sendiri motif, warna, potongan, dan ukuran sesuai kebutuhan. Sangat cocok untuk acara penting atau gaya personal. Sementara itu, ready-to-wear fashion tenun adalah koleksi jadi yang mengikuti tren modern, tersedia dalam ukuran umum, dan bisa langsung dikenakan tanpa proses tambahan.
Apa yang dimaksud dengan fashion etnik ready to wear?
Fashion etnik ready to wear adalah busana siap pakai yang memadukan unsur budaya tradisional—seperti tenun khas NTT—dengan desain dan siluet modern. Contohnya adalah blazer dari Tenun Amarasi, dress semiformal dari motif Insana, atau outer dengan aksen tenun ikat Sumba yang bisa digunakan untuk kerja, acara formal, hingga kasual.
Apakah tas tenun khas Kupang termasuk produk fashion etnik?
Ya. Tas tenun khas Kupang termasuk produk fashion etnik yang kini banyak digemari karena desainnya unik, penuh makna budaya, namun tetap fungsional. Produk seperti clutch bag dari motif Amarasi atau slingbag dari tenun Sumba bisa jadi statement piece dalam penampilan sehari-hari.
Bagaimana cara memadukan pakaian adat modern agar tetap terlihat stylish?
Pakaian adat modern seperti blazer tenun, rok panjang etnik, atau outer dari kain ikat bisa dipadukan dengan fashion basic seperti atasan polos, jeans, atau celana bahan. Kuncinya ada di pemilihan siluet yang clean, warna netral, dan satu fokus motif. Koleksi dari Padu Padan Tenun banyak menawarkan inspirasi gaya modern heritage yang tetap relevan untuk perempuan urban.
Apakah tenun NTT cocok untuk pria juga?
Tentu. Meski banyak desain ditujukan untuk perempuan, fashion tenun pria juga semakin berkembang. Kemeja pria berbahan tenun ikat Sumba, scarf, atau jaket bomber bermotif geometris Amarasi kini mulai dilirik oleh pria yang ingin tampil beda dan berbudaya.
Apakah saya bisa memesan hampers tenun untuk hadiah?
Ya, Padu Padan Tenun menyediakan paket hampers berbahan tenun seperti scarf, dompet, atau pouch dengan kemasan artistik dan ramah lingkungan. Cocok untuk hadiah ulang tahun, pernikahan, acara resmi, atau corporate gift dengan sentuhan budaya.
Bagaimana saya tahu bahwa produk tenun yang saya beli bukan hasil printing?
Pastikan untuk:
-
Meraba tekstur: Tenun asli terasa bertekstur dan tidak halus seperti kain printing.
-
Melihat detail motif: Motif pada tenun asli tidak 100% simetris, tanda bahwa dibuat manual.
-
Menanyakan langsung: Brand terpercaya seperti Padu Padan Tenun selalu mencantumkan informasi tentang komunitas penenun dan proses produksinya.
Apakah tenun bisa digunakan untuk acara formal seperti seminar atau kerja kantor?
Sangat bisa. Banyak produk ready to wear tenun kini hadir dalam bentuk blazer, dress, atau atasan semiformal yang cocok untuk kantor, seminar, atau presentasi publik. Mengenakan tenun di ruang kerja juga menunjukkan identitas budaya dan keberpihakan terhadap produk lokal berkualitas tinggi.

